Minggu, 16 September 2012

Paleotsunami


ABSTRAKS
Tsunami merupakan serangkaian gelombang yang terjadi ketika sekumpulan air yang besar, secara cepat berpindah tempat yang disebabkan oleh tanah longsor atau gempa bumi besar baik didarat maupun didasar laut. ini dapat terjadi karena adanya gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, hantaman meteor di laut, pergerakan besar di atas dan di bawah air, ledakan di bawah air serta pergeseran lempeng kulit bumi.  
 Peristiwa ini berulang dan sering secara periodic pada wilayah tertentu sehingga pentingnya pengetahuan tsunami melalui kajian paleotsunami. Paleotsunami merupakan tsunami purba atau tsunami yang terjadi pada zaman dahulu sebelum adanya bukti-bukti tertulis.  
Hasil penelitian paleotsunami dapat digunakan untuk mengetahui waktu perulangan terjadinya tsunami. Pengetahuan waktu perulangan tersebut penting untuk memprediksi waktu terjadinya tsunami di masa datang. Ini penting sebagai upaya penanggulangan terhadap pengurangan risiko bencana tsunami sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.

Kata Kunci : Paleotsunami, waktu berulang tsunami, memprediksi waktu terjadinya tsunami di masa datang.  

Pendahuluan
Bencana adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau karena ulah manusia yang terjadi secara secara tiba-tiba atau berlahan-lahan yang mengakibatkan hilangnya jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan. Bencana tersebut seperti gempa 26 Desember 2004 dengan kekuatan 8,9 skala Richter yang mengakibatkan gelombang tsunami.
Tsunami merupakan serangkaian gelombang yang terjadi ketika sekumpulan air yang besar, secara cepat berpindah tempat yang disebabkan oleh tanah longsor atau gempa bumi besar baik didarat maupun didasar laut. Peristiwa tersebut dapat terjadi karena adanya gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, hantaman meteor di laut, pergerakan besar di atas dan di bawah air, ledakan di bawah air serta pergeseran lempeng kulit bumi. Selain itu gempa juga yang dapat menimbulkan peluang tsunami apabila: gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km), gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter dan gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.
Dampak yang dirasakan juga semakin parah, disebabkan oleh berbagai factor, termasuk diantaranya meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di daerah yang rentan bahaya dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam persiapkan diri menghadapi tsunami. Pengalaman sebelumnya terlihat daerah yang paling banyak menelan korban adalah daerah yang masyarakatnya  tidak mempunyai pengetahuan tentang tsunami yang pada dasarnya sudah pernah terjadi (Hadmoko, 2005).
Fenomena ini menunjukkan pentingnya pengetahuan bencana tentang tsunami melalui kajian paleotsunami. Paleotsunami merupakan tsunami purba atau tsunami yang terjadi pada zaman dahulu sebelum adanya bukti-bukti tertulis. Penelitian paleotsunami bertujuan untuk mengetahui tsunami yang pernah terjadi di masa-masa lalu berdasarkan bukti-bukti geologi. Ini merupakan upaya pengurangan resiko bencana tsunami, sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.


Konsep Paleotsunami

Paleotsunami merupakan peristiwa tsunami terjadi di zaman dahulu belum adanya bukti-bukti tertulis. Penelitian paleotsunami melakukan identifikasi, pemetaan, dan penentuan umur deposit tsunami yang ditemukan pada daerah pantai, dan kaitannya dengan sedimen yang sama yang ditemukan pada tempat lain baik secara lokal, regional, atau sepanjang dasar samudera. ini merupakan  bukti-bukti geologi merupa endapan-endapan pasir tsunami (Bourgeis, 2009).
Endapan pasir tsunami memiliki ciri-ciri yang khas sehingga dapat dibedakan dari endapan pasir lainnya. Endapan ini sering kali ditemukan menutupi lapisan tanah purba. Secara umum endapan pasir tsunami memperlihatkan kenampakan struktur ukuran butiran menghalus ke bagian atas secara berangsur. Dalam satu endapan tsunami, struktur ini dapat terlihat lebih dari satu buah.
Struktur ini merupakan petunjuk bagi banyaknya gelombang yang melanda ketika tsunami terjadi. Di dalam pasir tersebut sering kali didapatkan cangkang-cangkang binatang renik yang berasal dari kedalaman laut. Bongkah-bongkah tanah juga acap kali terdapat di dalam pasir tsunami itu sebagai hasil gerusan gelombang tsunami. Hal ini mambawa perubahan yang signifikan dari lingkungan, seperti mangrove dan perusakan bunga karang oleh peristiwa tsunami, akan mempengaruhi kemampuan populasi untuk bertahan hidup dan memaksa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Scheffers, 2008). 
Hasil penelitian paleotsunami dapat digunakan untuk mengetahui waktu perulangan terjadinya tsunami. Pengetahuan waktu perulangan tersebut penting untuk memprediksi waktu terjadinya tsunami di masa datang.  Ini penting sebagai  upaya penanggulangan terhadap pengurangan risiko bencana tsunami sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.

 Kesimpulan
 Tsunami merupakan serangkaian gelombang yang terjadi ketika sekumpulan air yang besar, secara cepat berpindah tempat yang disebabkan oleh tanah longsor atau gempa bumi besar baik didarat maupun didasar laut. ini dapat terjadi karena adanya gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, hantaman meteor di laut, pergerakan besar di atas dan di bawah air, ledakan di bawah air serta pergeseran lempeng kulit bumi.  
 Peristiwa ini berulang dan sering secara periodic pada wilayah tertentu sehingga pentingnya pengetahuan tsunami melalui kajian paleotsunami. Paleotsunami merupakan tsunami purba atau tsunami yang terjadi pada zaman dahulu sebelum adanya bukti-bukti tertulis. Penelitian paleotsunami dengan melakukan identifikasi, pemetaan, dan penentuan umur deposit tsunami yang ditemukan pada daerah pantai, dan kaitannya dengan sedimen yang sama yang ditemukan pada tempat lain baik secara lokal, regional, atau sepanjang dasar samudera. ini bertujuan untuk mengetahui tsunami yang pernah terjadi di masa-masa lalu berdasarkan bukti-bukti geologi. Bukti-bukti ini merupa endapan-endapan pasir tsunami  
  Di dalam pasir tersebut sering kali didapatkan cangkang-cangkang binatang renik yang berasal dari kedalaman laut. Bongkah-bongkah tanah juga acap kali terdapat di dalam pasir tsunami itu sebagai hasil gerusan gelombang tsunami. Hal ini mambawa perubahan yang signifikan dari lingkungan, seperti mangrove dan perusakan bunga karang oleh peristiwa tsunami, akan mempengaruhi kemampuan populasi untuk bertahan hidup dan memaksa untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 
Hasil penelitian paleotsunami dapat digunakan untuk mengetahui waktu perulangan terjadinya tsunami. Pengetahuan waktu perulangan tersebut penting untuk memprediksi waktu terjadinya tsunami di masa datang. Ini penting sebagai  upaya penanggulangan terhadap pengurangan risiko bencana tsunami sehingga dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.

DAFTAR PUSTAKA
Bourgeois J. 2009. Geologic Efects And Records of Tsunamis . Department of Earth & Space Sciences,University of Washington. Published in: Robinson, A.R. and Bernard, E.N., eds., The Sea, Volume 15: Tsunamis, Harvard University Press.
Scheffers S., Jay H., Tony B., Anja S. 2008. Tsunamis, hurricanes, the demise of coral reefs and shifts in pre-historic human populations in the Caribbean. School for Environmental Management and Science, Southern Cross University, PO Box 157, Lismore NSW 2480, Australia,.and Island Territory of St. Maarten, ROB-VROM Section head for Monuments and Archaeology, Tamarindsteeg 1,Philipsburg, St. Maarten, Netherlands Antilles. Accepted Manuscript.
Hadmoko S D., Franck L., Raphael P. 2005. Tsunami Aceh 26 Desember 2004: Sebuah Pengantar. Fakultas Geoggrafi dan Pusat Studi Bencana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia., Laboratoire de Geographie Physique UMR 8591 CNRS, Meudon, France,. and Geolab UMR 6042 CNRS, Clermont-Ferrand, France. Jurnal Kebencanaan Indonesia.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar