Kamis, 29 November 2012

33 Propinsi di Indonesia dan Ibukotanya

Indonesia memiliki 33 propinsi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada table di bawah ini:




NO

Provinsi

Ibu Kota

1.
    Aceh
   Banda Aceh
2.
   Sumatera Utara
   Medan
3.
   Sumatera Barat
   Padang
4.
   Riau
   Pekan Baru
5.
   Jambi
   Jambi
6.
   Sumatera Selatan
   Palembang
7.
   Bengkulu
   Bengkulu
8.
   Lampung
   Bandar Lampung
9.
   Kepulauan Bangka Belitung
   Pangkal Pinang
10
   Kepulauan Riau
   Tanjung Pinang
11.
   Jakarta
   Jakarta Pusat
12.
   Jawa Barat
   Bandung
13.
   Jawa Tengah
   Semarang
14.
   Yogyakarta
   Yogyakarta
15.
   Jawa Timur
   Surabaya
16.
   Banten
   Serang
17.
   Bali
   Denpasar
18.
   Nusa Tenggara Barat
   Mataram
19.
   Nusa Tenggara Timur
   Kupang
20.
   Kalimantan Barat
   Pontianak
21.
   Kalimantan Tengah
   Palangkaraya
22.
   Kalimatan Selatan
   Banjarmasin
23.
   Kalimatan Timur
   Samarinda
24.
   Sulawesi Utara
   Manado
25.
   Sulawesi Tengah
   Palu
26.
   Sulawesi Selatan
   Makassar
27.
   Sulawesi Tenggara
   Kendali
28.
   Gorontalo
   Gorontalo
29.
   Sulawesi Barat
   Mamuju
30.
   Maluku
   Ambon
31.
   Maluku Utara
   Sofifi
32.
   Papua Barat
   Manokwari
33.
   Papua
   Jayapura

Sumber: http://silauluan.blogspot.com/2012/10/blog-post_4.html

Sabtu, 24 November 2012

Pengetahuan Lokal Berkembang di Masyarakat Aceh Terhadap PRB

Indonesiamerupakan negara kepulauaan terbesar didunia. Letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada antara dua benua dan dua samudera terbentang di garis khattulistiwa serta terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia merupakan wilayah teritorial yang sangat rawan terhadap bencana(Kirmanto, 2002). Bencana adalah Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU No.24/2007). Bencana tersebut seperti badai tropis, banjir, tsunami, gempa bumi, gunung meletus, longsor, dan kekeringan serta kebakaran hutan.
     Peristiwa tersebut diperlukan mitigasi bencana berupaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akibat bencana alam. Hal ini dapat menggunakan pengetahuan local untuk dapat diteruskan ke generasi selanjutnya sebagai kearifan local. Kearifan lokal rakyat Aceh terkait masalah kebencanaan, lingkungan, sosial, dan budaya, sebagian besar telah hilang bersama terkuburnya teks-teks kuno. Teks itu di tuliskan oleh ulama dan kaum intelektual Aceh terkait kearifan-kearifan lokal. Kini disayangkan, naskah-naskah kuno itu tak lagi dilestarikan dan dipedulikan sehingga generasi masa kini seperti kehilangan pegangan mengenai apa saja sebenarnya kearifan lokal Aceh. Kearifan lokal yang sebenarnya sudah berkembang pada masa sebelum abad ke-20 adalah mengenai kesiagaan bencana, khususnya menghadapi gempa dan tsunami. hal tersebut ditulis oleh seorang ulama abad ke-18 dalam kitab tasawuf: tuntunan agar melihat gejala alam dengan baik sebagai pesan kearifan menghadapi bencana. Dalam tersebut, menyebutkan bahwa setelah terjadi gempa besar, biasanya akan diikuti dengan banyak burung-burung dan hewan-hewan dari laut yang bergerak ke darat. Tak ada tiupan angin dan suasana senyap. Itulah tanda-tanda tsunami akan terjadi. Sayangnya, pengetahuan tradisi seperti ini sudah tak diketahui generasi masa kini sehingga gempa dan tsunami Aceh membawa korban jiwa yang besar.Jenis kearifan lokal lain yang juga termaktub dalam kitab Tajjul Muluk, yang bertutur mengenai tuntunan sejarah, perbintangan, pengobatan, larang menebang hutan, dan bahkan hukum. Larangan menebang hutan, misalnya orang Aceh tidak boleh menebang sebelum sebuah pohon sudah mengugurkan dahannya, yang artinya pohon tersebut sudah berusia tua. Kearifan seperti ini tak lagi dipahami generasi muda sehingga kini hutan Aceh sudah rusak. Tradisi literasi nilai-nilai lokal ini tak berlanjut pada penyalinan ulang teks. Setelah masa Kerajaan Aceh runtuh, tradisi pun hancur. Bahkan, teks-teks hikayat kuno banyak yang hilang dan terlupakan. Aceh tidak lagi memiliki sumber-sumber sejarah dan tradisi yang kuat. Keadaan ini sangat memprihatinkan, sehingga di perlukan mengumpulkan kembali kearifan local masyakat Aceh (SAMAI UI, 2011).
     Kearifan local masyarakat Aceh dapat dilihat dari bangunan rumah yang khas ‘Rumoh Aceh’. Rumoh Aceh yang bentuknya itu berupa rumah panggung. Salah satu alasan atau manfaat dari rumah berbentuk panggung ini sebenarnya adalah untuk mengantisipasi saat terjadinya banjir. Fungsi lainnya agar terhindar dari serangan binatang buas semacam harimau.
    Selain itu Aceh merupakan daerah yang mempunyai cukup banyak sungai baik besar maupun kecil. Sehingga di zaman kesultanan dulu, sungai ini dijadikan sebagai alat transportasi, maka rumah-rumah yang dibangun pun secara sendirinya berdekatan dengan sungai. Sesuai prinsip sungai itu sendiri, adakala airnya banyak dan sedikit, atau dalam bahasa hidrotekniknya adalah debitnya itu berbeda-beda. Adakalanya debit menjadi sangat besar karena pengaruh hujan yang terjadi intensitasnya tinggi sehingga menyebabkan terjadinya banjir. Kejadian alam semacam ini sebenarnya sudah merupakan kerutinan. Oleh karena itu, masyarakat Aceh zaman dahulu membangun ‘Rumoh Aceh’. Rumoh Aceh ini tersendiri menjadi aman terhadap banjir, jadi barang-barang yang ada di dalamnya bisa selamat saat banjir terjadi .
    Pada saat sekarang Rumoh Aceh ternyata merupakan konstruksi yang tahan gempa juga. Dan belajar dari kejadian tsunami yang menimpa Aceh tanggal 26 Desember 2004, konstruksi jenis ini cukup bekerja, apalagi dengan sedikit inovasi tambahan. Salah satu bentuknya adalah membangun rumah beton yang berbentuk Rumah panggung. Rumah-rumah seperti ini dapat kita jumpai di sekitar kawasan Ulee Lheue Kota Banda Aceh.
    Berlanjut terhadap rancanagan kadang hewan periharaan dua tingkat: kadang itik (bebek) bawah dan kandang ayam di tingkat dua. Hal tersebut merupakan antisipasi bila banjir datang tiba-tiba di waktu malam tidak perlu kuwatir lagi, karena bebek dapat berenang sedangkan ayam yang diatasnya aman.
     Selain itu pengalaman membuktikan bahwa hewan dapat mendeteksi dini bencana alam. Seperti: ikan lele memiliki sensitifitas tinggi terhadap pergerakan tanah termasuk gempa. Bila suatu getaran dalam tanah terjadi dan membentuk gempa, maka lele-lele akan berkecipuk aktif dan mengibas-ibaskan air sebelum datangnya gempa
    Bila tempat tinggal dekat dengan sungai atau danau, capung sering terbang ke sekeliling rumah dan berkelompok. Bila tiba-tiba mareka terbang sekeliling area tempat tinggal masyarakat jumlah banyak atau sangat banyak, maka menandakan akan terjadi hujan lebat yang mengakibatkan banjir. Di samping itu juga semut biasanya mencari tempat yang tinggi, maka menandakan akan terjadi hujan lebat atau banjir. Tanda lainnya apabila mekarnya bunga angsana, biasanya akan terjadi hujan lebat  
     Bagi masyarakat Aceh, adat merupakan sebuah kearifan yang harus dijaga, dilestarikan, dan diterapkan sebagai bagian dari norma kehidupan. Tingginya nilai-nilai adat dalam masyarakat Aceh tercermin pula dalam bercocok tanam. Misalnya dalam pembukaan lahan untuk bercocok tanam, di Aceh terdapat sejumlah aturan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Aturan-aturan tersebut seperti tata cara penebangan kayu hutan yang tidak boleh menebang kayu-kayu besar yang menjadi tempat bersarang lebah. Hal ini sudah menjadi pantangan umum yang apabila dilanggar dapat merugikan orang banyak. Petani di Aceh, dalam bercocok tanam juga memiliki tahapan-tahapan sendiri yang disesuaikan dengan kalender Aceh yang disebut keuneunong atau keunong. Dalam melaksanakan pertanian di sawah atau dikenal dengan sebutan meugo blang, ada petuah orang Aceh (hadih maja) yang berbunyi; Keunong siblah tabu jareung, keunong sikureung tabu rata, keunong tujoh pih jeut mantong, keunong limong ulat seuba. Petuah (Hadih maja) ini bercerita tentang kapan mulai menabur benih dan kapan harusnya tidak dilakukan. Petani di Aceh cukup paham dengan petuah ini   
    Kearifan lokal di Aceh juga terdapat dalam larangan menebang pohon pada radius sekitar 500 meter dari tepi danau, 200 meter dari tepi mata air dan kiri-kanan sungai pada daerah rawa, sekitar 100 meter dari tepi kiri-kanan sungai, sekitar 50 meter dari tepi anak sungai (alue). Semua aturan ini sudah menjadi ketetapan lembaga adat suatu daerah, demi menjaga keberlangsungan hidup alam dan masyarakat di daerah tersebut. Jika aturan-aturan ini dilanggar, Pawang Hutan (pawang uteuen) sebagai instansi adat berhak menjatuhkan sanksi kepada si pelanggar karena imbasnya akan menimpa masyarakat banyak, misalnya banjir dan turunnya binatang buas ke pemukiman penduduk.  
    Panglima Laut (Panglima Laot) : orang/ ketua adat yang memimpin urusan bidang pengaturan penangkapan ikan di laut/ sengketa laot.  
  Peran Ulama dalam pencegahan bencana juga menjadi nilai lebih di Aceh. Fatwa Majelis Permusyawatan Ulama (MPU) misalnya; siapapun yang melakukan perusakan alam/ hutan merupakan pekerjaan yang berdosa, karena banyak kemudharatan di kemudian hari. Kebijakan ini melalui fatwa ulama menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk melakukan pencegahan bencana terjadi. Ini juga bagian dari Local Wisdom yang patut dipergunakan untuk pencegahan bencana terjadi, terutama bencana yang akibat dari ulah tangan manusia sendiri.
Sumber :
Kirmanto D, ”Kebijakan Penanggulangan Bencana, Pulitkim, Bandung, 2002.
SAMAN UI, “Kearifan Lokal Aceh Terkubur”, samaui.wordpess.com, Update 2011.
Undang-undang Republik Indonesia, nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Sabtu, 17 November 2012

Cerita Berseri_Eps 2

Seri 1
Tinggal: sungguh cepat.
Hari    : apanya yang cepat.
Tinggal: perjalanan.
Hari    : perjalanan gimana.
Tinggal: perjalanan kehidupan.
Hari    : oh... ...

seri 2
buat: lagi ngapain.
lagi : buat...in
buat: apa?
lagi : lampiran
buat: ???
lagi : sedang ku persiapkan
buat: untuk apa?
lagi :  kelengkapan. 
buat:maksudnya apasih.
lagi : kelengkapan proposal.
buat: yang mana.
lagi : yang akan ku ajukan.
buat: aku doakan diterima dan lancar.
lagi : Amin.......




Empat belas

satu.......
      dua........
            tiga.........
                 empat........
                         lima...........
                               enam.........
                                     tujuh.........
                                             delapan.....
                                                        sembilan.....
                                                                   sepuluh........
                                                                              sebelas.........
                                                                                        dua belas......
                                                                                                    tiga belas......
                                                                                                               empat belas....
Insya Allah, tinggal 14 hari lagi:
semoga terlaksana dengan baik dan lancar.
Amin ya rabbal-a'lamin