Jumat, 21 September 2012

Strategi Mitigasi dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim




Iklim adalah rata-rata peristiwa cuaca di suatu daerah tertentu, termasuk perubahan ekstrem musiman dan variasinya dalam waktu yang relatif lama, baik secara lokal, regional atau meliputi seluruh bumi. Iklim dipengaruhi perubahan-perubahan yang cukup lama dari aspek-aspek seperti orbit bumi, perubahan samudera, atau keluaran energi dari matahari. Menurut UU No. 31 Tahun 2009 Tentang “Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika” Perubahan Iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.

Beberapa Pemahaman perubahan iklim:
1).    Pemahaman petani terhadap Perubahan Iklim adalah terjadinya musim hujan dan kemarau yang sering tidak menentu sehingga dapat mengganggu kebiasaan petani (pola tanam) dan mengancam hasil panen.
2).    Pemahaman nelayan terhadap Perubahan iklim adalah susahnya membaca tanda-tanda alam (angin, suhu, astronomi, biota, arus laut) karena terjadi perubahan dari kebiasaan sehari-hari, sehingga nelayan sulit memprediksi daerah, waktu dan jenis tangkapan.
3).    Pemahaman masyarakat umum terhadap Perubahan iklim adalah ketidakteraturan musim.

Perubahan iklim merupakan rangkaian sebab akibat dari perubahan unsur-unsur iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun (inter centenial). Perubahan iklim merupakan perubahan musiman jangka panjang dalam pola suhu, Tetesan air, kelembaban, angin dan musim . Contoh: musim (dingin, panas, semi, gugur, hujan dan kemarau) dan gejala alam khusus (seperti tornado dan banjir). 
Perubahan iklim merupakan perubahan baik pola maupun intensitas unsur iklim pada periode waktu yang dapat dibandingkan (biasanya terhadap rata-rata 30 tahun). Perubahan iklim dapat berupa perubahan dalam kondisi cuaca rata-rata atau perubahan dalam distribusi kejadian cuaca terhadap kondisi rata-ratanya. Sebagai contoh, lebih sering atau berkurangnya kejadian cuaca ekstrim, berubahnya pola musim dan peningkatan luasan daerah rawan kekeringan. Perubahan iklim merupakan perubahan pada komponen iklim yaitu suhu, curah hujan, kelembaban, evaporasi, arah dan kecepatan angin, dan perawanan.
Perubahan iklim yang disebabkan oleh alam yaitu letusan gunung berapi, gempa bumi, dan sebagainya. Selaian itu perubahan iklim juga dapat disebabkan oleh faktor manusia, misalnya makin meningkatnya kegiatan industri, pembakaran hutan, meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk, pembangunan, penambangan, penebangan hutan, serta perilaku negatif lainnya dari masyarakat yang kurang bersahabat dengan lingkungannya. Fenomena ini telah dan akan memberikan dampak pada masyarakat dan permukiman , kegiatan sosial ekonomi seperti : pertanian, perkebunan, kehutanan, pariwisata dan ekosistem

Perubahan Iklim di Indonesia
1.     Iklim muson
Iklim jenis ini sangat dipengaruhi oleh angin musiman yang berubah-ubah setiap periode tertentu. Biasanya satu periode perubahan angin muson adalah 6 bulan. Iklim musim terdiri dari 2 jenis, yaitu Angin musim barat daya (Muson Barat) dan Angin musim timur laut (Muson Tumur). Angin muson barat bertiup sekitar bulan Oktober hingga April sehingga membawa musim hujan/penghujan. Angin muson timur bertiup sekitar bulan April hingga bulan Oktober yang mengakibatkan wilayah Indonesia mengalami musim kering/kemarau.

2.     Iklim Tropis
Wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa otomatis akan mengalami iklim tropis yang bersifat panas dan hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Umumnya wilayah Asia tenggara memiliki iklim tropis. Iklim tropis bersifat panas sehingga wilayah Indonesia panas yang mengundang banyak curah hujan atau Hujan Naik Tropika.

3.     Iklim Laut
Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah laut mengakibatkan penguapan air laut menjadi udara yang lembab dan curah hujan yang tinggi.
Jika kita cermati unsur iklim yang sering dan menarik untuk dikaji di Indonesia adalah curah hujan, karena tidak semua wilayah Indonesia mempunyai pola hujan yang sama, diantaranya ada yang mempunyai pola munsonal, ekuatorial dan lokal.

Peristiwa Perubahan Iklim di Indonesia yaitu:
1.     Perubahan Curah Hujan Perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan peluang kejadian hujan ekstrim di beberapa wilayah di Indonesia.  
2.     Pergeseran Musim Perubahan iklim dapat menyebabkan adanya pergeseran musim. Di Indonesia, musim mengalami pergeseran baik pada awal musim maupun panjang musim. Pergeseran tersebut terjadi dimusim kemarau dan musim hujan, baik maju maupun mundur.  
3.     Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi menyebabkan terjadinya perubahan pada unsur-unsur iklim lainnya, seperti naiknya suhu air laut, meningkatnya penguapan di darat, serta berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya merubah pola iklim dunia.  

Perubahan iklim dapat dikelompokkan menjadi 4 : 
1. Meningkatnya temperatur udara
2. Meningkatnya curah hujan;
3. Kenaikan muka air laut (sea level rise);
4. Meningkatnya intensitas kejadian ekstrim yang di antaranya adalah :
ü  Meningkatnya intensitas curah hujan pada musim basah (extreme rainfall)
ü  Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir (extreme flood)
ü  Berkurangnya curah hujan dan debit sungai pada musim kemarau serta bertambah
ü  panjangnya periode musim kering (drought)
ü  Meningkatnya temperatur yang diikuti gelombang panas (head waves)
ü  Menurunnya kualitas air pada musim kemarau
ü  Meningkatnya intensitas dan frekuensi badai (tropical cyclone)
ü  Meningkatnya tinggi gelombang dan abrasi pantai, dan
ü  Meningkatnya intrusi air laut.




Dampak perubahan Iklim:
1.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Komsumsi Energi
            Penggunaan energi merupakan sumber penyebab utama terjadinya pemanasan global, karena menghasilkan karbon dioksida, CO2 yang merupakan gas rumah kaca. Akibat pemanasan global menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan berdampak pada perubahan penggunaan/konsumsi energi.
ü  Dampak perubahan iklim terhadap penggunaan/konsumsi energi dapat berupa:
ü  Penurunan tingkat konsumsi energi untuk pemanasan ruangan dan kenaikan penggunaan energi untuk pendinginan ruangan.
ü  Penurunan kebutuhan energi untuk pemanasan air (seperti untuk mandi), dan kenaikkan konsumsi energi untuk pendinginan/pembuatan es;
ü  Konsumsi energi yang lebih besar untuk proses-proses yang sensitif terhadap perubahan cuaca, seperti pemompaan untuk pengairan sawah, dan lain-lain;
ü  Kenaikkan konsumsi energi listrik untuk Air Conditioner (AC);
ü  Perubahan konsumsi energi pada beberapa sektor ekonomi, seperti sector transportasi, konstruksi, pertanian dan lain-lain.

2.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Keanekaragaman Hayati
 Salah satu sendi kehidupan yang vital dan terancam oleh adanya perubahan iklim ini adalah
keanekaragaman hayati (biodiversitas) dan ekosistem. Biodiversitas sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim. Perubahan iklim berpengaruh terhadap perubahankeanekaragaman hayati dan ekosistem baik langsung maupun tidak langsung.

ü  Dampak langsung  
ü  Spesies ranges (cakupan jenis)
Perubahan Iklim berdampak pada pada temperatur dan curah hujan. Hal ini mengakibatkan beberapa spesies tidak dapat menyesuaikan diri, terutama spesies yang mempunyai kisaran toleransi yang rendah terhadap fluktuasi suhu.
ü  Perubahan fenologi
Perubahan iklim akan menyebabkan pergeseran dalam siklus yang reproduksi dan pertumbuhan dari jenis-jenis organisme, sebagai contoh migrasi burung terjadi lebih awal dan menyebabkan proses reproduksi terganggu karena telur tidak dapat dibuahi. Perubahan iklim juga dapat mengubah siklus hidup beberapa hama dan penyakit, sehingga akan terjadi wabah penyakit.
ü  Interaksi antar spesies
Dampak perubahan iklim akan berakibat pada interaksi antar spesies semakin kompleks (predation, kompetisi, penyerbukan dan penyakit). Hal itu membuat ekosistem tidak berfungsi secara ideal.
ü  Laju kepunahan
Kepunahan telah menjadi kenyataan sejak hidup itu sendiri muncul. Beberapa juta spesies yang ada sekarang ini merupakan spesies yang berhasil bertahan dari kurang lebih setengah milyar spesies yang diduga pernah ada. Kepunahan merupakan proses alami yang terjadi secara alami. Spesies telah berkembang dan punah sejak kehidupan bermula. dapat dipahami melalui catatan fosil. Tetapi, sekarang spesies menjadi punah dengan laju yang lebih tinggi daripada waktu sebelumnya dalam sejarah geologi, hampir keseluruhannya disebabkan oleh kegiatan manusia. Di masa yang lalu spesies yang punah akan digantikan oleh spesies baru yang berkembang dan mengisi celah atau ruang yang ditinggalkan. Pada saat sekarang, hal ini tidak akan mungkin terjadi karena banyak habitat telah rusak dan hilang. Beberapa kelompok spesies yang lebih rentan terhadap kepunahan daripada yang lain. Kelompok spesies tersebut adalah :
a         Spesies pada ujung rantai makanan, seperti karnivora besar, misalnya harimau (Panthera tigris). Karnivora besar biasanya memerlukan teritorial luas untuk mendapatkan mangsa. Oleh karena populasi manusia terus merambah areal hutan dan penyusutan habitat, maka jumlah karnivora juga menurun.
b        Spesies lokal endemik (spesies yang ditemukan hanya di suatu area geografis) dengan distribusi yang sangat terbatas, misalnya badak Jawa (Rhinoceros javanicus). Sangat rentan terhadap gangguan habitat lokal dan manusia.
c         Spesies dengan populasi kecil yang kronis. Bila populasi menjadi terlalu kecil, maka menemukan pasangan atau perkawinan (untuk bereproduksi) menjadi masalah yang serius, misalnya Panda.
d        Spesies migratori adalah spesies yang memerlukan habitat yang cocok untuk mencari makan dan beristirahat pada lokasi yang terbentang luas sangat rentan terhadap kehilangan ‘stasiun’ habitat peristirahatannya.
e         Spesies dengan siklus hidup yang sangat kompleks. Bila siklus hidup memerlukan beberapa elemen yang berbeda pada waktu yang sangat spesifik, maka spesies ini rentan bila ada gangguan pada salah satu elemen hidupnya.
f         Spesies spesialis dengan persyaratan yang sangat sempit seperti sumber makanan yang spesifik, misal spesies tumbuhan tertentu.


ü  Penyusutan Keragaman Sumber Daya Genetik
Ancaman terhadap kelestarian sumberdaya genetik juga dapat ditimbulkan oleh adanya pengaruh pemanasan global. Beberapa varian dari tanaman dan hewan menjadi punah karena perubahan iklim. Kepunahan spesies tersebut menyebabkan sumberdaya genetik juga akan hilang. Ironisnya banyak sumberdaya genetic (plasma nutfah) belum diketahui apalagi dimanfaatkan, kita menghadapi kenyataan mereka telah hilang.

ü  Dampak tidak langsung:  
Berbagai penyebab penurunan keanekaragaman hayati di berbagai ekosistem antara lain konversi lahan, pencemaran, eksploitasi yang berlebihan, praktik teknologi yang merusak, masuknya spesies asing dan perubahan iklim.

ü  Ekosistem Hutan
Ekosistem hutan mengalami ancaman kebakaran hutan yang terjadi akibat panjangnya kemarau. Jika kebakaran terjadi secara terus menerus, spesies flora dan fauna terancam dan merusak sumber penghidupan masyarakat. Indonesia mempunyai lahan basah (termasuk hutan rawa gambut) terluas di Asia, yaitu 38 juta ha yang tersebar mulai dari bagian timur Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, sampai Papua. Tetapi luas lahan basah telah menyusut menjadi kurang lebih 25,8 juta ha. Penyusutan lahan basah dikarenakan berubahnya fungsi rawa sebesar 37,2 persen dan mangrove 32,4 persen. Luas hutan mangrove berkurang dari 5,2 juta ha tahun 1982 menjadi 3,2 juta ha tahun 1987 dan menciut lagi menjadi 2,4 juta ha tahun 1993 akibat maraknya konversi mangrove menjadi kawasan budidaya.

ü  Daerah kutub
Sejumlah keanekaragaman hayati terancam punah akibat peningkatan suhu bumi rata-rata sebesar 1oC. Setiap individu harus beradaptasi pada perubahan yang terjadi, sementara habitatnya akan terdegradasi. Spesies yang tidak dapat beradaptasi akan punah. Spesies-spesies yang tinggal di kutub, seperti penguin, anjing laut, dan beruang, juga akan mengalami kepunahan, akibat mencairnya sejumlah es di kutub.
ü   Daerah arid dan gurun
Dengan adanya pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim mengakibatkan luas gurun menjadi semakin bertambah (desertifikasi).
ü  Ekosistem pertanian
Perubahan iklim akan menyebabkan terjadinya perubahan cuaca, sehingga periode
musim tanam menjadi berubah. Hal ini akan mengakibatkan beberapa spesies harus
beradaptasi dengan perubahan pola tanam tersebut.

3.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Sumber Daya Air
Perubahan iklim global yang dicirikan oleh perubahan unsur-unsur iklim seperti perubahan suhu udara permukaan bumi, curah hujan, kelembaban, kecepatan angin, evaporasi dan transpirasi akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap respon hidrologi wilayah yang selanjutnya menentukan ketersediaan air untuk berbagai kebutuhan. Dengan demikian besaran dan distribusi air juga akan mengalami perubahan dan dalam jangka panjang kelestarian sumber daya air memerlukan perhatian yang serius.
Kenaikan suhu akibat perubahan iklim akan menaikkan laju penguapan tanaman, tanah, danau, sungai dan laut yang menyebabkan menipisnya ketersediaan air dan berakibat kekeringan. Kenaikan suhu yang tidak merata di seluruh bumi menimbulkan adanya tekanan rendah dan tekanan tinggi baru. Pola angin bergeser dan pola hujan berubah. Tinggi muka air laut meningkat akibat volume air laut mengembang karena temperatur naik, selain adanya pasokan baru dari gunung-gunung es di kutub yang mencair. Daerah yang berada di garis lintang tinggi dan sebagian lintang rendah dapat mengalami peningkatan presipitasi sedangkan pada daerah lintang tengah dan garis lintang rendah mengalami kurangnya curah hujan.
Hal ini berarti perubahan iklim dapat menyebabkan terjadinya pergeseran musim di berbagai daerah, dimana musim kemarau akan berlangsung lama sehingga menimbulkan bencana kekeringan dan penggurunan. Musim hujan akan berlangsung dalam waktu singkat dengan kecenderungan intensitas curah hujan lebih tinggi dari curah hujan normal, yang berdampak bencana banjir dan badai.
Perubahan iklim juga menyebabkan peningkatan peristiwa La-Nina dan El-Nino yang berdampak pada kelebihan air di satu sisi (banjir) dan kekurangan air di sisi lainnya (kekeringan). Sebagai contoh adalah terjadinya kebanjiran dan kekeringan pada areal persawahan di Indonesia sebagai akibat peristiwa La-nina dan El-nino.
Akibat tidak langsung adalah intrusi air laut yang kemudian dapat menyebabkan penurunan kualitas air tanah. Peningkatan temperatur air akibat perubahan iklim juga dapat menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan air pendingin karena polusi termal pada air. Hal ini juga mempengaruhi pola oksigen, potensial redoks, stratifikasi danau, laju pencampuran dan pertumbuhan biota air. Peningkatan temperatur air akan menurunkan kemampuan pemurnian sendiri dari sungai. Lebih jauh lagi, intensitas hujan yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan nutrien, pathogen dan racun ke dalam badan air. Berbagai penyakit juga dapat ditularkan melalui air, baik melalui air minum atau dengan mengkonsumsi tanaman yang diirigasi dengan air tercemar.
Hal ini akan terjadi fenomena dan dampak akibat perubahan iklim dalam jangka panjang, sebagai berikut:
(1)   Kenaikan kelembaban permukaan tanah, fluktuasi suhu siang dan malam yang tinggi berpengaruh terhadap kenaikan massa air (volume) dan beberapa sumber air.
(2)   Peningkatan frekuensi gelombang panas berakibat meningkatnya kebutuhan air dan menurunnya kualitas air, sebagai contoh ledakan ganggang (booming algae).
(3)   Tingginya intensitas curah hujan di daerah berkelembaban tinggi berdampak pada menurunnya kualitas air permukaan dan air tanah sebagai contoh terjadinya kontaminasi sumber air.
(4)   Semakin luasnya daerah yang mengalami kekeringan sehingga semakin banyak daerah yang kekurangan air.
(5)    Peningkatan intensitas badai tropis yang kekuatannya dapat mengganggu penyediaan air bagi kepentingan masyarakat.
(6)   Peningkatan kejadian gelombang pasang yang berakibat pada menurunnya ketersediaan air bersih karena intrusi air laut.

4.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Sistem Transportasi
Faktor perubahan iklim yang mempengaruhi sistem transportasi yaitu: meningkatnya temperatur (Increasing temperatures), meningkatnya curah hujan (Increasing precipitation), dan naiknya permukaan laut (Rising sea levels )

ü  Peningkatan Temperatur
Peningkatan temperatur berpotensi mempengaruhi berbagai moda transportasi, terutama mempengaruhi permukaan jalanan. Pengaruh yang disebutkan adalah kerusakan perkerasan jalan, melengkungnya rel (rail buckling), efisiensi bahan bakar berkurang, permukaan air dalam tanah makin rendah dan menurunnya penutup es.
ü  Meningkatnya Curah Hujan
Peningkatan durasi dan intensitas curah hujan yang terjadi tentu saja akan dapat mempengaruhi stabilitas konstruksi jalan raya, jalan kereta, trotoar dan lain-lain. Curah hujan dapat menyebabkan terbawanya sedimen ke dalam sungai sehingga mempercepat pendangkalan sungai. Untuk jembatan, pondasi jembatan dapat bergerak dan merusak jembatan. Selain itu meningkatnya curah hujan sering menyebabkan banjir yang merusak prasarana transportasi jalan. Pada saat hujan sering sekali terjadi longsor. Bahan-bahan longsoran masuk ke badan jalan sehingga jalan terputus. Kejadiaan ini sering terjadi di jalan-jalan utama, akibatnya perjalanan terganggu
ü  Naiknya Permukaan Laut
Naiknya permukaan laut dapat merapengaruhi wilayah pantai, yang selanjutnya mempengaruhi moda transportasi laut. Apabila permukaan air naik maka terjadi pasang. Pasang
ini dapat merusak jalan yang dekat dengan pantai dan merusak prasarana jalan yang ada.

5.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Wilayah Pesisir
Pemanasan global, salah satu perubahan iklim global, telah diyakini berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia di berbagai wilayah dunia. Wilayah pesisir adalah wilayah yang paling rentan terkena dampak buruk pemanasan global sebagai akumulasi pengaruh daratan dan lautan. Dalam ringkasan teknisnya tahun ini, Intergovernmental Panel on Climate Change, suatu panel ahli untuk isu perubahan iklim, menyebutkan faktor penyebab kerentanan wilayah yaitu:
(1)   pemanasan global ditenggarai meningkatkan frekuensi badai di wilayah pesisir. Setiap tahun, sekitar 120 juta penduduk dunia di wilayah pesisir menghadapi bencana alam tersebut, dan 250 ribu jiwa menjadi korban hanya dalam kurun 20 tahun terakhir (tahun 1980-2000).
(2)   pemanasan global diperkirakan akan meningkatkan suhu air laut berkisar antara 1-3°C.
ü  sisi biologis, kenaikan suhu air laut ini berakibat pada meningkatnya potensi kematian dan pemutihan terumbu karang di perairan tropis. Kerusakan terumbu karang juga berarti hilangnya pelindung alam wilayah pesisir yang akan memicu peningkatan laju abrasi pantai.
ü  meningkatnya suhu permukaan air laut, akan berpengaruh terhadap produktivitas perikanan. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai.

6.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian
Dampak paling merugikan akan melanda sektor pertanian akibat pergeseran musim dan
perubahan pola curah hujan. Pada umumnya semua bentuk sistem pertanian sangat sensitive terhadap variasi iklim. Terjadinya keterlambatan musim tanam atau panen akan memberikan dampak besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap ketahanan pangan.



ü  Meningkatnnya Temperatur
Meningkatnya temperatur akan berdampak terhadap percepatan penguapan air, baik dari tanah maupun tanaman, sehingga tanaman akan rentan terhadap kekurangan air yang pada akhirnya dapat menurunkan produksi. Tidak sebatas itu, dengan naiknya temperatur akan memberikan keadaan yang kondusif bagi perkembangbiakan beberapa jenis serangga hama yang akan sangat berpotensi menurunkan tingkat produktivitas bahkan mampu menggagalkan panen.

ü  Berubahnya Pola Curah Hujan
Perubahan pola curah hujan akan berdampak pada tingginya intensitas hujan dalam periode yang pendek dan akan menimbulkan banjir yang kemudian menyebabkan produksi pertanian menurun, khususnya padi karena sawah terendam air. Tingginya curah hujan juga mengakibatkan hilangnya lahan karena erosi dan longsor. Sementara itu di beberapa tempat pola curah hujan terjadi dengan intensitas rendah dalam periode kemarau yang panjang, sehingga terjadi kekeringan dimana-mana yang akhirnya berakibat terhadap rendahnya produktivitas pertanian.

ü  Naiknya Permukaan Air Laut
Indonesia tidak luput dari dampak perubahan iklim dan berada pada posisi yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, karena banyaknya pulau yang dimiliki Indonesia (Indonesia memiliki garis pantai nomor dua terpanjang di dunia (14% dari garis pantai dunia). Naiknya temperatur akan berpengaruh terhadap mencairnya salju/es di kutub yang pada akhirnya berakibat terhadap naiknya permukaan air laut. Hal ini akan menyebabkan hilangnya sejumlah pulau kecil dan abrasi yang cukup serius, sehingga terancamnya jutaan penduduk dan petani yang tinggal di daerah pesisir pantai.

7.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Hutan
Hutan sebagai salah satu ekosistem daratan berperan sebagai penyerap karbon (carbon sink). Fungsi itu diperankan melalui penyerapan gas CO2 oleh tumbuh-tumbuhan yang hidup di ekosistem hutan dan kemudian salah satu hasilnya yaitu karbon disimpan sebagai biomassa didalam hutan. Oleh karena itu, semakin luas hutan maka semakin besar pula kapasitas carbon sink yang dipunyai oleh ekosistem daratan dan sebaliknya emisi GRK dan pemanasan global akan semakin berkurang. 
 Wilayah tropis telah terjadi pengurangan hutan seluas 19.76 juta km2 atau pengurangan sebesar 1,73%/ tahun dari luas hutan semula. Pengurangan hutan tropis terutama diakibatkan oleh: pengalihan fungsi hutan menjadi kawasan pertanian, perkebunan, permukinan serta kebakaran hutan dan pembalakan liar (illegal logging). Hutan rentan terhadap perubahan iklim.

8.     Dampak perubahan Iklim Terhadap Kesehatan
Perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi perubahan panas dan dingin, bencana banjir dan kekeringan, bencana tanah longsor, juga dapat merubah kandungan gas di udara. Oleh karenanya perubahan iklim akan berdampak pada kesehatan manusia, karena akan dapat menyebabkan kematian, kecelakaan dan penyakit. Dampak lain dari perubahan iklim di Indonesia adalah meningkatnya frekuensi penyakit tropis, seperti malaria dan demam berdarah.  

 Upaya Mitigasi
  • Pentingnya gaya hidup hemat energi perlu dikampanyekan secara terus menerus kepada seluruh lapisan masyarakat.
  •  Menggunakan berbagai jenis media dan sarana, pendidikan hemat energi ini juga perlu masuk dalam kegiatan pendidikan, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.
  • Penggunaan energi baru dan terbarukan (seperti bahan bakar nabati dan pemanfaatan limbah/sampah menjadi energi).  
  • Pelestarian keragaman sumber daya genetik, terutama untuk tanaman pertanian dan ternak dilakukan melalui koleksi plasma nutfah yang dilakukan oleh beberapa balai penelitian di bawah Departemen Pertanian.
  • Usaha rehabilitasi waduk, alokasi air melalui operasi waduk, pembangunan jaringan irigasi, penghijauan lahan kritis dan sosialisasi gerakan hemat air, peningkatan kehandalan sumber air baku, peningkatan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA).
  • Mengembangkan tanaman karet pada lahan semak belukar dan alang-alang.
  • Memanfaatkan lahan alang-alang (cadangan karbon rendah) menjadi lahan perkebunan (cadang karbon lebih besar).
  • Meremajakan tanaman perkebunan yang sudah menurun produktivitasnya.
  • Mengembangkan ternak yang adaptif terhadap lingkungan yang lebih ekstrim (kekeringan, suhu tinggi, genangan).
  • Pengelolaan tanah dan tanaman

  Upaya Adaptasi

  • Mulai dipikirkan dan ditetapkan sumber energi pengganti bahan bakar fosil.
  • Mengurangi emisi methan dengan mencegah timbulnya kebakaran di musim kemarau,
  • Pengelolaan TPA maupun pembenahan rawa-rawa.
  •  Menerapkan pengelolaan sumber air yang lebih terpadu dengan cara melestarikan ekosistem disertai perbaikan waduk-waduk penampung air dan parasarana penunjang lainnya.
  • Memelihara ekosistem asli, melindungi dan meningkatkan daya dukung ekosistem, mengelola habitat untuk species-species yang hampir punah, menciptakan tempat perlindungan dan daerah-daerah penyangga serta membentuk jejaring kawasan perlindungan darat, air dan laut.
  • menanam tanaman penghadang seperti pohon mangrove 
  • Pindah lokasi atau bermukim jauh dari pantai
  •  Melakukan penyesuaian misalnya, dengan beralih ke sumber-sumber nafkah yang lain (wilayah pesisir).
  •  Seiring dengan perubahan lingkungan hidup, perlu memperkuat layanan dasar kesehatan masyarakat. Perubahan iklim akan mengakibatkan udara menjadi lebih panas sehingga memungkinkan penyebaran nyamuk-nyamuk pembawa penyakit ke wilayah-wilayah baru, maka diperlukan suatu sistem pengawasan kesehatan yang lebih handal untuk memonitor penyebaran penyakit seperti malaria dan deman berdarah dengue (DBD).


Sumber:
http://www.bmkg.go.id/bmkg_pusat/Klimatologi/Informasi_Perubahan_Iklim.bmkg -
Sahri Muhammad, D. Gede R. Wiadnya, Darmawan O. Sutjipto,  Adaptasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Kelautan Terhadap Dampak Perubahan Iklim Global, [Makalah disajikan pada acara Seminar Nasional Pemanasan Global: Strategi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia, di Universitas Brawijaya Malang, pada hari Sabtu 31 Januari 2009]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar